mozvid.blogspot.com - oleh : semua keajaiban duniaDalam bahasa Inggris, sidik jari disebut Finger Print; biasanya berbentuk garis-garis horizontal dan vertikal / gabungan keduanya dan jg ada bentuk lengkungan-lengkungannya. Seluruh manusia di dunia diciptakan dgn sidik jari yg berbeda, satu sama lainnya. Tak ada sidik jari yg identik di dunia ini, sekalipun di antara dua saudara kembar. Dalam dunia sains pernah dikemukakan, jika ada 5 juta orang di bumi, kemungkinan munculnya dua sidik jari manusia yg sama baru akan terjadi lagi 300 tahun kemudian.
Proses identifikasi manusia masih sulit dilakukan sebelum ditemukannya tanda pengenal pd sidik jari. Sejak itu, muncul ilmu Daktiloskopi, yg khusus mempelajari sidik jari. Namun, sejatinya, sejak lama Islam melalui al-Qur'an telah menjelaskan dan merumuskan teori tersebut (biometrik).
Pengakuan adanya keunikan sidik jari mulai diperkenalkan oleh ahli anatomi Jerman bernama Johann Christoph Andreas Mayer (1747-1801) pd tahun 1788. Menurutnya, tiap sidik jari manusia itu memiliki keunikan sendiri-sendiri. Hal serupa jg dikemukakan oleh Sir William James Herschel (1833-1918) pd tahun 1858. Namun, pd saat itu, sidik jari belum dipakai sebagai teori ilmiah (saintis) untk dijadikan sebagai tanda pengenal seseorang.
Sidik jari mulai diteliti secara ilmiah dan akhirnya dijadikan sebagai tanda pembeda identitas adlh ketika Sir Francis Golt secara khusus melakukan riset tentang ni pd tahun 1880. Setelah melakukan risetnya, dia mengatakan bahwa tak ada dua orang manusia di dunia ni yg memiliki bentuk sidik jari yg benar-benar sama.
Pada perkembangannya, muncullah berbagai alat teknologi sidik jari dgn sistem analisa elektronik. Alat ni pertama kali digunakan Federal Bureau Investigation (atau populer dgn sebutan FBI) di Amerika Serikat sekitar akhir abad ke-19 / tahun 60-an. FBI menggunakannya untk mengetahui jati diri korban / bahkan tersangkanya lewat jejak sidik jari yg biasanya tertinggal dlm tempat kejadian.
Setelah itu, sidik jari tak saja digunakan sebagai alat untk mengungkap kriminalitas, tapi jg mulai memasuki ranah yg lain, seperti untk mesin absensi, teknologi akses kontrol pintu, finger print data secure, aplikasi retail, sistem payment dan masih banyak lagi.
Seiring dgn itu, muncullah disiplin ilmu yg mempelajari sidik jari, yaitu Daktiloskopi. Yakni ilmu yg mempelajari sidik jari untk keperluan pengenalan kembali identitas orang dgn cara mengamati garis yg terdapat pd guratan garis jari tangan dan telapak kaki. Daktiloskopi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dactylos yg berarti jari jemari / garis jari, dan scopein yg artinya mengamati / meneliti. Kemudian dari pengertian itu timbul istilah dlm bahasa Inggris, dactyloscopy yg kita kenal menjadi ilmu sidik jari.
Pertanyaannya: mengapa sidik jari memiliki peran yg demikian signifikan untk "pembeda identitas"? Karena sidik jari memiliki beberapa sifat dan karakteristik. Pertama, parennial nature, yaitu adanya guratan-guratan pd sidik jari yg melekat pd manusia yg bersifat seumur hidup. Karena itu, pola sidik jari relatif mudah diklasifikasikan. Dalam sidik jari, ada pola-pola yg dpt diklasifikasikan sehingga untk berbagai keperluan, misalnya pengukuran, mudah dilakukan.
Kedua, immutability, yg berarti bahwa sidik jari seseorang tak akan pernah berubah. Sidik jari bersifat permanen, tak pernah berubah sepanjang hayat. Sejak lahir, dewasa, hingga akhir hayat, pola sidik jari seseorang bersifat tetap kecuali sebuah kondisi yaitu terjadi kecelakaan yg serius sehingga mengubah pola sidik jari yg ada. Hal ni berbeda dgn anggota tubuh lain yg senantiasa berubah, seperti bentuk wajah yg berubah seiring usia.
Ketiga, individuality, yg berarti keunikan sidik jari merupakan originalitas pemiliknya yg tak mungkin sama dgn siapapun di muka bumi ni sekali pun pd seorang yg kembar identik. Dengan kata lain, sidik jari bersifat spesifik untk tiap orang. Kemungkinan pola sidik jari sama adlh 1:64.000.000.000, jadi tentunya hampir mustahil ditemukan pola sidik jari sama antara dua orang. Pola sidik jari di tiap tangan seseorang jg akan berbeda-beda. Pola sidik jari di ibu jari akan berbeda dgn pola sidik jari di telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking.
Dengan tiga sifat dan karakter di atas, maka pantas jika sidik jari dijadikan sebagai alat pembeda identitas. Dan selama ini, cara ni sangat ampuh dlm mengungkap berbagai kriminalitas di berbagai belahan dunia dan berbagai kebutuhan lainnya.
Namun, tahukah Anda, jauh hari sebelum teori-teori modern tentang sidik jari itu bermunculan (biometrik), sesungguhnya al-Qur'an telah mengupasnya. Al-Qur'an telah memperhatikan sidik jari sebagai sesuatu yg sangat vital dlm anggota tubuh kita. Allah berfirman, "Apakah manusia mengira bahwa Kami tak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dgn sempurna." (QS. Al-Qiyamah [75]:3-4)
Menurut Harun Yahya dlm Pesona Al-Qur'an ketika menjelaskan ayat di atas menulis bahwa penekanan pd sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari tiap orang adlh khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yg hidup / pernah hidup di dunia ni memiliki serangkaian sidik jari yg unik dan berbeda dari orang lain. Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yg sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untk tujuan ni di seluruh penjuru dunia.
Harun Yahya melanjutkan, sistem pengkodean lewat sidik jari ni dpt disamakan dgn sistem kode garis (barcode) sebagaimana yg digunakan saat ini. Akan tetapi, ujarnya, yg penting adlh bahwa keunikan sidik jari ni baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun, dlm al-Qur'an, Allah merujuk kepada sidik jari, yg sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pd arti penting sidik jari yg baru mampu dipahami di zaman sekarang.
Dan jauh hari sebelum Sir Francis Golt mengemukakan secara ilmiah tentang sidik jari, dokter Persia yg bernama Rashid al-Din Hamadani (1247-1318) sebenarnya pernah menulis dlm Tawarikh, kalau pengalaman menunjukkan bahwa tak ada dua individu yg memiliki jari persis sama.
Namun, para penentang kebenaran al-Qur'an selalu saja mencari celah. Dikatakan, bahwa konsep sidik jari sebenarnya sudah diperkenalkan sejak dulu sebelum Islam lahir. Di China, pd abad ketiga SM, sidik jari sudah dijadikan sebagai bukti otentikasi pinjaman. Konon, pedagang Muslim Arab bernama Abu Zaid Hasan, saat berkunjung ke China sebelum 851 CE, menyaksikan pedagang China menggunakan sidik jari untk otentikasi pinjaman. Pada 650 CE, sejarawan China yg bernama Kia Kung-Yen mengatakan bahwa sidik jari dpt digunakan sebagai alat otentikasi.
Terlepas dari adanya data terakhir ini, yg jelas, bagi kita sebagai umat Islam sangat bangga dgn adanya kitab suci bernama al-Qur'an. Sejak 14 abad yg lalu, al-Qur'an selalu otentik dipergunakan. Informasi-informasi ilmiah yg diberikannya selalu teruji sampai kapanpun, yg saat itu belum disadari sama sekali oleh orang. Dengan kata lain, al-Qur'an adlh bukti tertulis yg paling otentik yg bisa dijadikan sebagai rujukan ilmiah dlm mengupas persoalan-persoalan teknologi zaman sekarang. Sedangkan bukti-bukti lain terkadang aus terkikis zaman / hilang dan terbakar.
Sumber : http://zilzaal.blogspot.com/2012/09/sidik-jari-dan-biometrik-dalam-al-quran.html
Description : mozvid.blogspot.com - oleh : semua keajaiban dunia Dalam bahasa Inggris, sidik jari disebut Finger Print; biasanya berbentuk garis-garis hor...
0 Response to "Sidik Jari dan Biometrik Dalam Al-Quran"
Post a Comment