mozvid.blogspot.com - Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia yg tiada tara kami rasakan karenanya. Kami menjaganya siang dan malam, sampai kami melupakan keadaan diri sendiri. Kami sadar, memang seharusnyalah seperti itu kewajiban orang tua.
Kami besarkan dia dgn segenap jiwa dan raga. Kami didik dgn semaksimal ilmu yg kami punya. Dan kami jaga dia dgn penuh kehati-hatian.
Dan waktupun berlalu...
Dia kini telah menjadi sesosok gadis yg cantik. Betapa bangga kami memilikinya. Kami berpikir, betapa cepat waktu berlalu, dan terbersit dlm hati kami untk tetap menahannnya disini. Bukan bermaksud meletakkan ego kami atas hidupnya, Tapi sebagai orang tua, siapa yg dpt berpisah dari anaknya. Putri kesayangannnya.
Tapi...
Hari ini, akhirnya datang juga. Saat dimana kami harus melihatnya terbalut dlm pakaian cantik, yaitu gaun pengantinnya. Gadis kecil kami telah tumbuh dewasa. Dan sesudah ijab kabul ini, kau lah kini yg menjadi penjaganya. Menggantikan kami. Mari ikatkan tanganmu kepadanya.
Waktu akhirnya memaksa kami berpisah dengannya. Walaupun kau adlh orang yg asing dan baru sebentar dikenalnya, sedangkan kami adlh orang tuanya yg telah mengorbankan semua yg kami punya untuknya. Namun, tak ada sama sekali kemarahan kami atas dirimu, menantuku.
Ijinkan kami untk sedikit meluapkan kesedihan atas seorang putri kami yg harus jauh meninggalkan kami, karena harus mengikutimu. Kamipun tak akan protes kepadamu, karena mulai hari ini, dia harus mengutamakan kau diatas kami.
Tolong, jangan beratkan hatinya, karena sebenarnya pun hatinya telah berat untk meninggalkan kami dan hanya mengabdi kepadamu. Seperti hal nya anak yg ingin berbakti kepada orang tua, pun demikian dengannya. Kami tak keberatan apabila harus sendiri, tanpa ada gadis kecil kami dulu yg selalu menemani dan menolong kami dimasa tua.
Kami menikahkanmu dgn anak gadis kami dan memberikan kepadamu dgn cuma- cuma, kami hanya memohon untk dia selalu kau jaga dan kau bahagiakan.
Jangan sakiti hatinya, karena hal itu berarti pula akan menyakiti kami. Dia kami besarkan dgn segenap jiwa raga, untk menjadi penopang harapan kami dimasa depan, untk mengangkat kehormatan dan derajat kami. Tapi kini kami harus menitipkannya kepadamu. Kami tidaklah keberatan, karena berarti terjagalah kehormatan putri kami.
Jika kau tak berkenan atas kekurangannya, ingatkanlah dia dgn cara yg baik, mohon jangan sakiti dia, sekali lagi, jangan sakiti putriku.
Suatu saat dia menangis karena merasa kasihan dgn kami yg mulai menua, tapi harus sendiri berdua disini, tanpa ada kehadirannya lagi. Tahukah engkau wahai menantuku, bahwa kau pun memiliki orang tua, pun dgn istrimu ini. Disaat kau perintahkan dia untk menemani orang tuamu disana, pernahkah kau berpikir betapa luasnya hati istrimu?
Dia mengorbankan egonya sendiri untk tetap berada disamping orang tuamu, menjaga dan merawat mereka, sedang kami tahu betapa sedih dia karena dgn itu berarti orang tuanya sendiri, harus sendiri. Sama sekali tiada keluh kesah darinya tentang semua itu, karena semua adlh untk menepati kewajibannya kepada Allah.
Dia mementingkan dirimu dan hanya bisa mengirim doa kepada kami dari jauh. Jujur, sedih hati kami saat jauh darinya. Tapi apalah daya kami, memang sudah masa seharusnya seperti itu, kau lebih berhak atasnya dari pd kami, orang tuanya sendiri.
Maka hargailah dia yg telah dgn rela mengabdi kepadamu. Maka hiburlah dia yg telah membuat keputusan yg sedemikian sulit. Maka sayangilah dia atas semua pengorbanannya yg hanya demi dirimu. Semoga kau mengetahui betapa berharganya istrimu itu, jika kau menyadari.
other source : http://fb.com, http://kabarmakkah.com, http://merdeka.com
Description : mozvid.blogspot.com - Saat pertama kali putri kecil kami terlahir di dunia, dia menjadi simbol kebahagiaan bagi kami, orang tuanya. Bahagia ...
0 Response to "[Haji] Renungan Untuk Suami: Kuserahkan Putriku Padamu.."
Post a Comment