
mozvid.blogspot.com - Selang satu tahun setelah Parasyte Part 1 rilis, lanjutannya sudah bisa dinikmati di Indonesia. Simak saja review Parasyte Part 2 ni untk mengetahui apakah film ni layak untk ditonton! Jujur, Parasyte Part 1 terasa agak mengecewakan. Ini terutama karena paruh awalnya yang, menurut penulis pribadi, terkesan terlalu penuh dan padat akibat meringkas terlalu banyak bagian manga/anime-nya. Padahal aksinya sendiri oke, body horror yg disajikan keren mengingat film ni tak memiliki dana sebesar film Hollywood, dan paruh terakhirnya lebih bisa dinikmati. Mungkin karena bagian yg harus diadaptasi di Parasyte Part 2 ni lebih sedikit ketimbang Part 1, terasa kalau filmnya sendiri lebih enak untk diikuti. Tapi ada peluang kalau kamu-kamu yg suka Part 1 mungkin tak akan terlalu menyukai Part 2. Unsur fun yg terasa di beberapa bagian Part 1 terasa berkurang di lanjutannya ini, karena keseluruhan ceritanya terasa lebih kelam dari awal hingga akhir walau sutradara film masih berhasil memasukkan satu-dua humor di dlm ceritanya. Filmnya jg lumayan menitikberatkan pd studi karakter, dan efek kejadian di Part 1 kepada watak dan pribadi mereka. Untungnya, setidaknya bagi penulis, studi karakter ni disajikan dgn cukup memikat. Eri Fukatsu sebagai Ryoko Tamiya, terutama, berhasil menyajikan perkembangan sifat karakternya dgn menyentuh. Cukup luar biasa, mengingat karakternya lebih sering tampil sebagai sosok tanpa emosi di layar. Tak heran kalau dia didaulat sebagai salah satu poin positif dlm review Parasyte Part 2 ini. Sedangkan dua karakter utamanya, Shota Sometani sebagai Shinichi Izumi dan Ai Hasimoto sebagai Satomi Murano, mampu menyajikan karakter mereka dengan… tak buruk. Hanya saja karakter mereka, Murano terutama, terasa lebih whiny ketimbang di versi manga. Untuk kamu-kamu yg sudah membaca manga Parasyte hingga tamat, sebenarnya tak terlalu banyak kejutan berarti yg bisa kamu temukan di sini. Meski ada karakter yg tak terlalu disorot, / dihilangkan sekalian, dan ada perubahan latar adegan, garis besar kejadian-kejadian utamanya masih cukup setia dgn yg disajikan di manga. Tidak sepenuhnya jelek tentu. Setidaknya ni bisa memuaskan fans yg menginginkan adaptasi setia dari manga ke live action. Salah satu kekurangan yg ditemukan dari film ni adlh bagian penutupnya, yg terasa dipanjang-panjangkan. Lucunya, pembaca manganya mungkin paham bagian yg penulis maksud karena adegan ni jg disajikan dgn setia dari manganya. Bahkan bagi penulis pribadi bagian ni di manga terasa seperti bab yg sekedar dimasukkan untk mengakhiri plot yg menggantung, dan kesempatan tambahan untk memasukkan pesan moral dan pendapat tentang manusia. Hal itu lebih terasa lagi di filmnya. Selain itu… teks Indonesia yg disajikan Blitz masih bermasalah. Tidak separah Naruto: The Last, yg sampai benar-benar sulit dinikmati. Tapi kamu masih bisa menemukan beberapa terjemahan yg terlalu literal, / salah konteks. Padahal teks Inggrisnya, yg jadi acuan penerjemah, masih ada menyertai teks Indonesianya. Semoga ke depannya masalah ni diperbaiki. Akan konyol kalau tiap film Jepang yg dirilis Blitz memiliki kelemahan seperti ini. Biarlah ni menjadi salah satu poin negatif di review Parasyte Part 2, dan tak sampai mengganggu film seperti Attack on Titan yg katanya akan dirilis. Sekian review Parasyte Part 2. Kalau kamu tertarik, lebih baik cepat-cepat mengunjungi Blitz Megaplex agar tak melewatkan film ini!
About SyamdaThis is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.
source : http://stackoverflow.com, http://dailymotion.com
Title : [Anime] Review Parasyte Part 2: Penutup yang Bagus Untuk Duologi Ini
Description :
Description :

0 Response to "[Anime] Review Parasyte Part 2: Penutup yang Bagus Untuk Duologi Ini"
Post a Comment